Ayo Maju Petani Indonesia

Kerusakan Sedimen Pengaruhi Produksi Tambak Udang

KARAWANG -- Ribuan hektare tambak udang windu di Kabupaten Karawang sudah sejak beberapa tahun belakangan tidak lagi beroperasi atau beralih fungsi menjadi tambak garam. Hal ini disebabkan sering gagalnya panen yang menimbulkan kerugian.

Menurut peneliti Limnologi LIPI, Dr Tri Widiyanto, selama ini banyak petani tambak yang putus asa karena udangnya selalu mati waktu mencapai umur 40 hari tanpa sebab jelas. ''Setelah dilakukan kajian, ternyata kematian itu dipicu oleh penurunan kualitas air dan kerusakan sedimen,'' katanya di Karawang, Kamis (19/10).

Menurutnya, penyebab kerusakan adalah tingginya kandungan bahan nitrogen anorganik, senyawa organik karbon, dan sulfida baik yang berasal dari sisa pakan, kotoran udang, maupun pemupukan dalam jangka panjang. Kandungan itu berdampak langsung terhadap kandungan senyawa amonia, nitrit, H2S, dan senyawa karbon yang bersifat toksik pada sistem tambak udang.

Karena itu, satu-satunya usaha pengendalian masalah tersebut adalah dengan pendekatan biromediasi. ''Pengendalian pun dilakukan yang menekankan pada keseimbangan senyawa nitrogen anorganik, senyawa karbon dan H2S, serta pengkayaan pakan alamiah,'' lanjut Tri.

Salah satu metode yang digunakan yakni memanfaatkan kumpulan bakteri, misalnya nitrifikasi, denitrifikasi, fermentatif, fotosintetik, serta anoksigenik. ''Mikroorganisme itu nantinya dapat mengeluarkan senyawa toksik dan melepaskannya berupa gas nitrogen dan CO2 ke atmosfer,'' ujarnya. Isolat bakteri tadi antara lain didapatkan dari contoh air dan sedimen dari tiga lokasi tambak, yakni daerah Moramo Sulteng, Teluk Naga Tangerang, dan Kasemen Serang. Adapun percobaan yang dilakukan bertujuan mencari bentuk konsorsium agen bioremediasi yang bisa meningkatkan kualitas air dan sedimen tambak udang.

Dia mengatakan, percobaan sudah dilaksanakan sebanyak dua kali, tahun 2005 dan 2006. Aplikasi bakteri agen bioremediasi terseleksi dilakukan setiap 10 hari sekali. Hasilnya cukup menggembirakan, tingkat kelangsungan hidup udang dapat mencapai 70 persen dengan padat penebaran 30 ekor/m2 serta ukuran panen sekitar 35-45 ekor/kg. ''Penekanan dari percobaan ini adalah meningkatkan kelangsungan hidup udang. Oleh sebab itu, kita akan mencoba mencapai hingga 80 persen,'' paparnya.

Tri mengharapkan, keberhasilan ini dapat menjadi langkah awal guna membangkitkan kembali kegiatan budidaya udang windu di Indonesia. Apalagi penerapan teknik bioremediasi hanya membutuhkan tambahan biaya sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per hektare.

Hal senada disampaikan peneliti Limnologi LIPI, Widi Riyanto, bahwa permintaan akan udang windu masih sangat tinggi, baik untuk pasaran ekspor maupun lokal. Harganya pun stabil, sekitar Rp 51 ribu hingga 53 ribu per kg. Tapi amat disayangkan, produksi udang windu masih rendah. Data statistik perikanan Indonesia tahun 2002 memperlihatkan terjadinya penurunan. Tahun 1992 total produksi nasional sebanyak 98.350 ton, namun tahun 1998 menjadi 74.824 ton. Terlebih sekarang ini lebih dari 50 persen kondisi tambak udang di Indonesia tidak beroperasi. yus